December 21, 2007

Dalam Sisa Waktu



365 hari yang ada di tahun 2007 akan segera berlalu dan berganti dengan 365 hari di tahun yang baru, tahun 2008 Masehi. Waktu terus berlalu. Dan begitu banyak pula hal-hal yang telah kita ukir disepanjang hari-hari yang berlalu itu. Tidak semua hari-hari itu kita lalui dengan senyum, tawa dan canda, melainkan juga terisi dengan berbagai peristiwa memilukan, mengharukan atau bahkan mengetuk nurani yang akhirnya membangunkan dan menyadarkan diri kita.

Mungkin di tahun ini ada yang ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluarganya. Mungkin di tahun ini, ada yang tanpa di duga terkena PHK oleh perusahaannya, atau mungkin ada sebagian dari kita di tahun ini yang hanya bisa menghabiskan waktunya dalam keadaan terbaring di peraduan dalam kondisi dirawat karena sakit kronis.


Terkadang, kita selalu saja disibukkan dengan menghitung jumlah hari yang ada. Sibuk menghitung biaya hidup yang selalu kita keluarkan tiap harinya, tiap bulannya dan tiap tahunnya. Sibuk menghitung seberapa besar keuntungan dan kerugian yang kita peroleh dari usaha dagang yang kita geluti. Namun, seringkah kita melakukan perhitungan tentang amal yang telah kita lakukan selama ini?

Dikisahkan bahwa dahulu, ada seorang sholeh bernama Ibnu Simmah yang telah berusia 60 tahun. Ia begitu terkejut menghitung hari-hari yang telah ia lewati sepanjang hidupnya, yang ternyata telah ia lewati lebih dari 21.500 hari. Ia pun berteriak dan berkata, “Saya harus bertemu Allah dengan 21.000 dosa? Bagaimana jika saya melakukan 1000 dosa setiap hari?

Saudaraku,

Banyak dari kita yang merasa yakin dan seolah-olah akan terus hidup di dunia ini. Banyak dari kita yang tak henti-hentinya terus mengayuh roda kehidupan dalam kubangan kejahatan, ketidak hati-hatian, perilaku bejat dan amoral yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan manusia normal yang berakal. Banyak dari kita yang tetap setia dalam kepura-puraan, bermuka dua, dalam bungkusan topeng citra diri dan selalu berupaya menyebarkan propaganda untuk mengadu domba sesama. Semua dilakoni dengan tenang, tanpa beban dan tanpa perasaan bersalah, baik di hadapan manusia, lebih-lebih di hadapan Sang pencipta.

Saudaraku,

Dunia bukanlah tempat keabadian. Ia hanya sementara, fana, akan hancur dan segera berlalu, serta hanya sekejap kita rasakan kenikmatannya. Sesungguhnya dunia adalah sarana, tempat dimana kita berupaya sebaik mungkin untuk mengisi hari-harinya dengan segala amalan untuk menggapai ridho-Nya. Tempat kita berkarya dan berbuat bagi kemaslahatan bersama sebagai wujud khalifah-Nya di permukaan bumi.

Saudaraku,

Hari-hari yang akan kita lalui adalah sarana perjuangan kita. Sarana untuk kita meletakkan segala sesuatu sesuai tempatnya serta jalan yang akan kita lewati dengan iringan suka dan duka. Akan kita dapati bahwa harapan terkadang tidak berkesesuaian dengan kenyataan dan ujian pasti akan menghadang.

Semoga setiap anugerah hari yang diberikan oleh-Nya, semakin membuat kita tersadar dan bersabar, bahwa diri kita adalah kecil dan senantiasa membutuhkan pertolongan dari-Nya. Semoga setiap waktu yang diberikan-Nya, semakin menumbuhkan kesadaran dan kekuatan bagi kita untuk senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari.

Ya Allah,
Dalam sisa-sisa usia kami
Bantulah kami untuk menuju kepada-Mu
Dengan sebaik-baik jalan yang kami tempuh
Yang teriring bersama taubat dan kesungguhan
Dalam perbaikan dzikir, syukur dan segala amal…


No comments: